Berita

Dugaan Pemukulan Terhadap Pendemo yang Beredar Dimedsos, Kapolres Sinjai: Itu Hoax dan Sengaja di Freming Oleh Orang tak Dikenal

96

UBERBERITA.com – Ketika anda tidak menyenangi polisi hanya karena perbuatan seorang oknum dari istitusi tersebut yang melanggar hukum, janganlah anda membenci institusinya, sebab ketika sebuah hal yang tak terduga terjadi ditengah masyarakat. Yang dengan sigap merespon mengamankan lokasi dan melindungi kita.

Bahkan rela mengorbankan jiwa raganya untuk melindungi kita. Itu tak lain adalah petugas kepolisian. Hal tersebut tak bisa dipungkiri. Oleh karena itu penting untuk membedakan oknum polisi yang melakukan prilaku melawan hukum dengan istitusi kepolisian (Polri).

Berita ini diturunkan menyusul insiden yang terjadi di Kwitang Jakarta beberapa hari lalu mengakibatkan seorang driver ojol Affan Kurniawan Tewas terlintas kendaraan taktis aparat kepolisian.

Tragedi inipun memicu ketegangan hingga bentrok petugas kepolisian dan pendemo DPR RI tak terhindarkan, demo terjadi hampir di tiap kabupaten dan kota di Indonesia. Presiden RI Prabowo Subianto menginstruksikan TNI dan Polri untuk melakukan tindakan tegas terhadap oknum pendemo yang melakukan tindakan anarkis serta menindak tegas secara hukum oknum polisi yang mengakibatkan driver ojol Affan tewas.

Mengamati sikap ketegasan Presiden Prabowo, oknum pembenci polisi memanfaatkan situasi dengan melakukan penyebaran video hoax terhadap polisi yang melakukan kekerasan saat aksi demo, salah satunya video Kapolres Sinjai
AKBP Harry Azhar dituding melakukan dugaan pemukulan terhadap pendemo.

Video itu viral di media sosial. Kapolres Sinjai AKBP Harry Azhar menepis tudingan tersebut. Dia bilang jika itu tidak benar.”Kabar tuduhan penganiayaan dialamatkan kepada saya itu tidak benar alias hoax dan sengaja di framing orang tak dikenal. Saya saat itu hanya menegur personel yang terpancing emosi menghadapi tekanan massa dan kebetulan tongkat komando lagi saya pegang,” ungkapnya, Sabtu (6/9/2025).

Pamen polri dua bunga melati di pundaknya itu mempersilahkan untuk memperhatikan baik-baik video durasi singkat beredar itu. “Nah kita lihat videonya, disitu saya bukan mwmukul pendemo. Tapi berupaya menenangkan anggota agar tidak terbawa emosi dan kebetulan waktu kejadian tongkat komando saya pegang, Justru saya ingatkan mereka (anggota) agar tetap mengedepankan sikap persuasif,” tegas AKBP Harry Azhar.

Menurut dia, kala itu dirinya sejak pagi sudah berada di lokasi aksi bersama jajarannya. Dengan tujuan untuk memastikan proses penyampaian aspirasi mahasiswa berjalan aman, tertib, dan kondusif.

“Saya sama sekali tidak bermaksud menyakiti adik-adik mahasiswa. Saya masuk ke dalam barisan bukan untuk melakukan kekerasan, tetapi untuk meredakan tensi anggota yang mulai panas. Saya ingin memastikan penyampaian aspirasi berjalan dengan damai,” ungkapnya.

Untuk mengetahui kabar tersebut, awak media yang turun melakukan peliputan dan memantau situasi aksi kala itu. Membeberkan tindakan Kapolres Sinjai yang dinilai berupaya meredam situasi dengan mengingatkan personel untuk tidak terpancing dengan situasi.

“Kami ada di lokasi aksi dan melihat Bapak Kapolres berusaha meredam situasi. Beliau juga tampak memegang tongkat komando sembari mengingatkan personel untuk tidak terpancing dengan keadaan. Jadi tidak ada bukti maupun rekaman dugaan pemukulan yang ditudingkan,” beber Darmin salah seorang jurnalis media online.

Polri juga mengimbau masyarakat u untuk tidak terprovokasi dengan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Isu pemukulan yang beredar disebut hanya memperkeruh suasana dan mengganggu jalannya proses penyampaian aspirasi yang sebenarnya berlangsung damai.

Dengan adanya klarifikasi ini, diharapkan publik bisa melihat peristiwa secara jernih. Polisi menegaskan tetap membuka ruang dialog dengan mahasiswa serta siap mengawal setiap aspirasi selama dilakukan secara tertib dan sesuai aturan hukum yang berlaku. (*)

Exit mobile version