KOLAKA – Musim tanam kembali datang. Hamparan sawah telah menunggu untuk diolah, benih telah disiapkan, dan harapan para petani kembali dipupuk. Namun, harapan itu perlahan memudar di tengah sulitnya mendapatkan solar, bahan bakar yang menjadi penggerak traktor di awal musim tanam.
Di SPBU, antrean kendaraan mengular sejak pagi. Waktu terus berjalan, sementara sebagian petani harus pulang dengan tangan hampa. Mesin-mesin traktor terdiam. Sawah yang seharusnya mulai bergeliat justru tetap sunyi.
“Kalau begini terus, kami terlambat menanam. Hasil panen pasti berkurang,” ujar seorang warga kec samaturu bernama muhammad ridho, dengan nada penuh kekhawatiran.
Bagi petani, setiap hari yang hilang bukan sekadar waktu yang terbuang. Setiap keterlambatan mengolah lahan bisa berarti mundurnya masa tanam, menurunnya hasil panen, dan bertambah beratnya beban ekonomi keluarga. Di balik sawah yang belum tergarap, tersimpan kecemasan tentang masa depan pangan dan kehidupan mereka.
Di tengah kesulitan itu, beredar berbagai dugaan di masyarakat mengenai distribusi BBM bersubsidi. Masyarakat berharap dugaan tersebut ditanggapi secara serius melalui pengawasan yang terbuka dan penyelidikan apabila ditemukan indikasi pelanggaran. Mereka menginginkan kepastian bahwa BBM bersubsidi benar-benar sampai kepada mereka yang berhak, sehingga kepentingan petani tidak tersisih oleh kepentingan segelintir pihak.
Sebab ketika traktor berhenti, bukan hanya mesin yang terdiam. Harapan petani ikut tertahan, sawah kehilangan denyutnya, dan ketahanan pangan bangsa pun dipertaruhkan.
Laporan : HR
